Berhubung komputer sedang galau sehingga codingan semalaman jadi kacau, Pikiran saya jadi ruwet dan hati saya pun ikut mumet. Saya paksakan juga gak bakalan beres jika berhubungan dengan komputer kurang bersahabat seperti ini. Untung saja setiap hari saya selalu memback upnya. Jadi tak harus mengulang kembali dari awal. Lebih baik sejenak saya istirahatkan pikiran saya yang ruwet ini untuk menulis sebuah film yang sudah tonton beberapa hari lalu. Sebuah film hitam putih yang saya unduh dari Youtube. Beberapa komunitas memang sengaja mengupload film-film lama sebagai arsip agar tidak hilang ditelan zaman. Entah film tersebut masih memiliki lisensi atau tidak. Mungkin kapan-kapan saya tulis blog tentang chanel youtube menyediakan film-film langka. Sebenarnya saya bukan penggemar film hitam putih tapi jika kebetulan saya baca review dari sebuah blog ataupun forum ceritanya menarik, langsung saya keliling-keliing google atau youtube untuk mencari film tersebut.
“Tokyo Monogotari” sebuah film jadul tahun 1953 mengisahkan perjalanan sepasang suami-istri berumur lansia mengunjungi anak-anak mereka yang sudah berkeluarga dan hidup cukup mapan di Tokyo. Karena kesibukan masing-masing kedatangan mereka kurang begitu mendapat perhatian justru sang menantu yang melayani mereka dengan baik.
Sekilas jika membaca sinopsis singkat di atas kesannya anak-anaknya kurang menghargai dan tidak peduli kedatangan orang tuanya. Jawabannya bisa ya dan juga tidak. Tergantung sudut pandang karakter mana yang anda pilih sebagai acuan dan mungkin paling dekat dengan sisi karakter anda secara personal. Tindakan yang dilakukan anak-anak mereka terhadap orang tuanya bisa saja salah atau bisa juga wajar. Karena di film ini tidak menggambarkan orang-orang pelit atau judes yang tidak mengharapkan kedua orang tuanya. Sebaliknya mereka orang yang ramah dan bersikap wajar hanya saja ‘feel’nya yang memberi kesan seperti itu setidaknya itu yang saya rasakan.
Film ini menuturkan ceritanya secara wajar tidak berlebihan dan mendramatisir secara berlebihan. Bisa saya bilang film ini sangat dekat sekali dengan realita dan masih relevan dengan kultur sosial pada masa sekarang. Jika saya tempatkan sisi personal diri saya di film ini saya mendapatkan perasaan terabaikan yang dirasakan oleh kedua orang tua tersebut. Entah itu karena faktor usia yang membuat orang lebih cepat sensitif atau memang salah pengertian antara kedua orang tua dan anak-anak mereka. Yang jelas orang tua memang pandai menyembunyikan perasaan mereka di depan anak-anaknya. Selalu terlihat bahagia tapi mungkin sebenarnya mereka kurang bahagia, kecewa atau merasa terabaikan.
Mungkin sampai di situ saja batas kemampuan saya menilai film ini. Gak pandai review sih. Lebih baik saya lanjutkan ke hal-hal menarik yang saya temukan sepanjang film ini .
Bukan promo ya, Kedua merk di atas bukan sponsor blog ini. Boro-boro sponsor, Google adsense aja gak dipasang
. yang membuat saya terkejut adalah gambar ini :
Saya kira alat cream bath adalah invensi salon tahun 80 an ternyata tahun 50 an atau sebelumnya sudah ada. Dulu pernah ekeu nyobain cream bath supaya rambut bisa kaya ‘Hyde Takarai’ tapi bukan cuman rambut yg diremes-remes muka juga jadi trauma deh ekeu kalo potong rambut ke salon.
Kembali ke film tadi. Film ini membuat saya berpikir jauh tentang kehidupan saya dan juga hubungan saya dengan kedua orang tua saya. Saya menyarankan kepada Anda yang belum atau sudah berkeluarga agar menonton film ini sebagai bahan renungan. Suatu hari jika kita diberi umur panjang kita akan menjadi tua dan sensitif. Akhir kata, ‘Tokyo Monogotari” adalah sebuah refleksi hitam potret keluarga yang biasa terjadi di sekitar kehidupan kita atau kita pernah dan akan mengalaminya.
8.5/10




film masterpiece dari sutradara jepang yasujiro ozu yg paling humanis. Extra ordinary film about ordinary people.